Agung bersama warga Lenggoksono
Agung (berbaju hitam) bersama warga Lenggoksono

 

Saya orang yang terkendala pendidikan. Saya hanya lulusan SMP tetapi memang keinginan dan motivasi saya sangat besar untuk berkontribusi dan mengenalkan desa kelahiran saya, Lenggoksono, - Agung Tri Ono


Mungkin, tidak semua milenial bisa seperti Agung.

Di tengah keterbatasannya yang tak hanya jenjang pendidikan, Agung juga berasal dari tempat yang bisa dibilang terpelosok. Pemuda berkulit gelap karena terbakar matahari khas masyarakat pesisir pantai ini terlahir di Dusun Lenggoksono, Desa Purwodadi, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.

Setidaknya kalian butuh 2-3 jam perjalanan dari pusat Kota Malang untuk bisa mencapai tanah kelahiran Agung. Terdengar sangat jauh? Memang. Namun itu bukanlah alasan bagi Agung untuk memadamkan ambisinya. Bahkan semangatnya yang membara itu seolah ikut membakar orang-orang di sekitarnya.

Bersama-sama dalam keterbatasan, mereka mengajarkan kepada kita makna persatuan. Sebuah semangat menembus batas perbedaan demi keinginan tulus, harapan memberdayakan desa tempat tinggal mereka.

Sila Ketiga yang Terwujud Tanpa Selubung Formalitas

 Kita mendirikan negara Indonesia yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tapi Indonesia buat Indonesia! Semua buat semua! – Soekarno


Tentunya banyak di antara kita yang mengetahui cuplikan pidato yang diucapkan secara menggebu oleh Sang Proklamator dalam rapat besar BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 1 Juni 1945 silam di Hari Kelahiran Pancasila itu. Namun, berapa banyak di antara kita yang menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari?

Mungkin tidak banyak.

Beruntung bagi warga RT 02/RW 01 Dusun Lenggoksono, mereka mengejawantahkan betul harapan Bung Karno itu.

Meskipun bersuku Jawa, warga Lenggoksono pada dasarnya terbagi pada dua keyakinan agama berbeda dengan Kristen sebagai mayoritas dan sisanya adalah Islam. Di wilayah ini bahkan ada bangunan gereja yang berdiri tidak jauh dari masjid, menandakan toleransi bukanlah hanya sekadar ucapan tapi sudah dilakukan dalam keseharian sejak turun-temurun. Bahkan ketika ada acara larungan hasil Bumi ke pantai Lenggoksono sebagai ritual adat, semua orang turut terlibat tanpa memandang identitas keagamaan mereka.

Tak heran kalau Agung dengan cukup mudah menembus batas perbedaan itu demi upaya memberdayakan warga desanya.

Dibantu dengan para tetua kampung termasuk salah satunya adalah sang pakdhe yakni Kasembadan, Agung melibatkan penuh seluruh laki-laki dan perempuan di wilayahnya tanpa peduli jenjang usia untuk bersatu membangun desa.

Semuanya dimulai dari hal kecil yakni lingkungan.

warga RW 1 Lenggoksono membuat ecobrick
warga RW 1 Lenggoksono membuat ecobrick

Memilah plastik rumah tangga adalah kegiatan rutin yang dilakukan warga Lenggoksono. Sampah-sampah plastik dikumpulkan lalu dipilih sebelum akhirnya dipotong jadi kecil-kecil untuk dijadikan campuran ecobrick dalam botol plastik bekas minyak atau air minum kemasan. Nantinya ecobrick-ecobrick itu dirangkai sedemikian rupa untuk menjadi barang yang lebih berguna seperti gapura-gapura pos hingga kursi.

Jika tak ingin dijadikan ecobrick, sampah-sampah plastik itu dirangkai sedemikian rupa untuk menjadi aksesoris cantik bernilai ekonomi seperti tas hingga dompet.

Tak hanya sampah plastik saja, Agung bersama warga desanya juga mampu memproduksi POC (Pupuk Organik Cair) dari limbah dapur mereka masing-masing. Limbah dapur dengan aroma luar biasa tak sedap itu dibiarkan dalam wadah tertutup rapat agar terjadi proses fermentasi. Setelah minimal dua pekan, cairan POC dari limbah yang sudah mengendap itu dibawa ke kebun mereka masing-masing untuk menyuburkan tanah.

Hingga akhirnya kebun-kebun yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi itu mampu menghasilkan kopi, kelapa, cengkeh dan pisang yang mampu menjadi penopang kehidupan. Yang menarik, hasil bumi itu juga diolah sendiri oleh masyarakat Lenggoksono dan akhirnya menjadi buah tangan khas seperti keripik pisang yang tentunya semakin memberdayakan warganya.

proses dan hasil pengolahan limbah plastik warga Lenggoksono
proses dan hasil pengolahan limbah plastik warga Lenggoksono

Untuk warga yang tidak memiliki perkebunan juga tak perlu berkecil hati. Kalian bisa menemukan banyak rumah dengan halaman-halaman dipenuhi tanaman obat-obatan keluarga alias TOGA. Di mana pemilik rumah rupanya ikut mengolah tanaman obat itu menjadi minuman jamu yang segar, sehingga nilai ekonomisnya meningkat.

Internet Menyatukan Indonesia dalam Menembus Batas Geografi dan Kondisi

Menolak dianggap sebagai mastermind tunggal dari perubahan tempat tinggalnya, Agung memilih menjadi sosok penggerak saja. Karena menurutnya, perubahan warga Lenggoksono yang dulu hanyalah masyarakat pesisir dan bekerja di kebun menjadi kelompok manusia yang lebih berdaya secara ekonomi tapi tetap mencintai lingkungan, tak lepas dari perjuangan dan keterlibatan seluruh orang di dalamnya.

Agung menjadi saksi bagaimana berbagai perbedaan warga Lenggoksono itu justru adalah senjata ampuh untuk menciptakan persatuan yang teguh.

Kini Agung memiliki asa baru untuk membawa Lenggoksono ke level yang lebih tinggi yakni Desa Wisata. Keberadaan tiga pantai utama yang dikenal sebagai BOWELE (Bolu-Bolu, Wedi Awu dan Lenggoksono) membuat Agung sadar bahwa potensi tempat tinggalnya tentu sangatlah luar biasa besar.

Agung Tri Ono, penggerak dusun Lenggoksono
Agung Tri Ono, penggerak dusun Lenggoksono

Agung seperti banyaknya pemuda milenial di perkotaan, menggunakan internet sebagai sarana untuk mewujudkan mimpinya. Memahami betul bahwa internet menyatukan Indonesia, Agung bahkan mengikuti cukup banyak webinar dengan orang-orang dari pelosok Tanah Air dan instansi terkait untuk meningkatkan kualitas dirinya. Di mana nanti segala hal yang dia dapatkan dari kelas-kelas pertemuan online itu akan dibawanya ke forum yang lebih besar bersama masyarakat Dusun Lenggoksono.

Saat kami berjumpa di Lenggoksono pada akhir Desember 2021 lalu, Agung bahkan tak bisa menutupi rasa syukurnya karena internet sudah mengalir di tempat tinggalnya. Mungkin baginya, internet adalah salah satu amunisi yang membantu Agung menembus batas wilayah dan kondisi hidupnya, sehingga menjadi pemuda yang lebih berdaya.

Mau tak mau saya jadi teringat akan komitmen Telkom Group yang memang terus mengembangkan jaringan IndiHome hingga seluruh pelosok Indonesia, demi mewujudkan asa internet menyatukan Indonesia. Tentu seluruh upaya yang dilakukan lewat IndiHome ini membantu lebih banyak lagi pemuda-pemuda berdaya seperti Agung di seluruh Nusantara.

Hingga akhirnya barisan anak muda yang membawa semangat perubahan tanpa melihat perbedaan itu akan mewujudkan betul makna Pohon Beringin dalam sila ketiga Pancasila. Seperti halnya Beringin yang memberi keteduhan bagi siapapun di bawahnya lewat akar dan sulur yang banyak serta panjang, seperti itulah Indonesia akan menjadi tempat terbaik untuk dihuni bagi mereka dari suku, agama dan budaya yang berbeda.