Sumber foto: Eddy Suhardy/Alvin Bahar/GRID

Sahabat Awan, setiap dari kita mungkin sepakat jika SMA adalah salah satu momen terindah selama hidup. Selain bisa menemukan sahabat, menentukan impian yang ingin diraih, hingga cinta pertama semua kadang terjadi di bangku SMA.

Hal itu pula yang aku alami saat aku menjadi pelajar berseragam putih abu-abu.

Bahkan kalau boleh membuka kenangan dan berbicara dengan diriku yang remaja, ada satu hal yang sangat ingin kulakukan. Sebuah kalimat yang ingin kuucapkan saat SMA, tapi tertahan hingga bertahun-tahun kemudian dan membuatku selalu tersenyum geli saat mengingatnya.

Kalimat sederhana kepada anak laki-laki kelas sebelah yang kuanggap sebagai cinta pertama.

Terdengar konyol memang. Aku tak pernah menduga kalau bocah berkacamata bulat dan berkulit putih yang ada di kelas sebelah saat kami duduk di kelas X SMA, menjadi pria yang hingga di usia dewasa (dan siap menikah) saat ini, sebagai lawan jenis pertama yang sangat kusukai.

Perkenalanku dengannya sangatlah konyol. Saat itu aku yang begitu menyukai Harry Potter, memiliki kecenderungan suka dengan pria berkacamata bulat. Salah satu sahabatku memberitahu bahwa di kelas sebelah ada pemuda berkacamata bulat yang gemar sepakbola. Aku tak terlalu memikirkannya, karena bagiku yang masih berusia 16 tahun kala itu, pacaran masihlah sesuatu yang membuat canggung.

Aah, aku masih mengingatnya, sejelas kejadian itu terjadi kemarin.

Saat itu masihlah jam istirahat, dan aku di kelas seperti biasa untuk mengerjakan PR yang lupa kulakukan. Terdengar suara ramai di lorong luar kelas dan kemudian beberapa sahabatku menyeretku tanpa penjelasan. Saat aku keluar, lorong sudah sangat riuh dipenuhi teman-teman seangkatanku.

Jangan tanya betapa malunya aku saat itu. Apalagi saat aku diseret mendekatinya yang juga didorong rekan-rekannya. Untuk apa? Sekadar berjabat tangan saling berkenalan.

Memalukan?

Sungguh.

Namun cerita itu tak berakhir di perkenalan pada lorong kelas. Seperti layaknya seorang pria, si Mata Empat mengantarkanku pulang beberapa kali dengan sepeda motor Honda 70an berwarna hijau miliknya. Dia juga yang memberikan cokelat pertama saat Valentine. Satu kotak cokelat yang selamanya membuatku berseri setiap 14 Februari tiba.

Hanya saja cerita kami lebih tepat disebut seperti bunga yang layu sebelum berkembang.

Entah siapa yang mengawalinya, kami saking berjauhan begitu saja. Dan ketika masa SMA itu berakhir, aku sama sekali tak pernah punya kesempatan untuk memberitahunya.

Sebuah penyesalan yang selamanya sulit aku lupakan.

Tanpa Kuduga, Internet Menemukan Kami


Sebetulnya aku tak pernah mengharap muluk-muluk jika kami berjumpa lagi. Aku jelas sadar bahwa kami berdua tentu sudah jauh berbeda, tak seperti sepasang pelajar SMA yang pernah saling berboncengan di bawah hujan dulu.

Aku bahkan sudah berlapang dada kalau si Mata Empat sama sekali tidak mengenangku, seperti aku mengingatnya terus. Atau mungkin yang lebih parah, dia sudah menemukan cinta sejatinya dan membangun keluarga yang menyenangkan.

Hingga akhirnya sebuah DM (Direct Message) kala aku asyik bermain Twitter kuterima. Aku terkejut kala si pengirim pesan menyebutkan nama itu. Nama yang memiliki tempat khusus di dalam hatiku.

Seperti anak SMA yang mendapatkan pesan dari sang gebetan, aku bahkan selalu gugup saat membaca pesannya, padahal tahun sudaj jauh berganti sejak perkenalan kami di lorong kala itu. Pertanyaan basa-basi soal di mana kami tinggal, apa pekerjaan kami, hingga sedikit kenangan bersama di bangku SMA.

Sumber foto: via TEMPO

Aku tak bisa menahan degup jantung saat dia ternyata turut mengamati postingan media sosialku selama ini. Sebuah hal yang mungkin tak akan terjadi jika dunia ini belum terhubung internet.

Ya, bagiku yang berprofesi sebagai seorang blogger, internet jelas sudah sepenting oksigen. Apalagi dengan kebutuhan di dunia maya yang begitu tinggi, aku sangat membutuhkan yang namanya paket internet cepat.

Bagiku, paket internet cepat bukanlah sekadar bisa berselancar tanpa batas dan memperoleh informasi secara singkat saja. Tapi sudah lebih ke gaya hidup karena internet yang lambat, bisa bikin senewen.

Khusus untuk paket internet cepat, kupercayakan pilihanku pada IndiHome. Bahkan sejak SMA, aku sudah menggunakan layanan internet dari Telkom Indonesia itu kala masih bernama Speedy.

IndiHome, Jaminan Paket Internet Cepat Anti Kecewa


Seperti yang sudah kubilang sebelumnya, berlangganan internet dari Telkom tidaklah kumulai dengan IndiHome saja. Sebagai pengguna setia Speedy, peralihannya ke IndiHome dengan paket internet cepat sebagai keunggulannya adalah sebuah peristiwa yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia.

Saat ini di rumah, aku berlangganan IndiHome (internet only) dengan kecepatan 30 Mbps yang cuma butuh biaya Rp280 ribuan per bulan saja. Dengan tarif yang sangat terjangkau, internet dari IndiHome sudah mampu mengalirkan jaringan hingga lebih dari lima device di rumahku. Belum lagi adanya fitur Disney+ Hotstar, hobiku menonton film bisa terpenuhi tanpa batas.



Yang paling kusuka dari IndiHome, pelayanan servis-nya sangatlah memanjakan. Bayangkan saja, aku mengeluh koneksi bermasalah cuma lewat aplikasi MyIndiHome di pagi hari. Beberapa jam kemudian petugas IndiHome datang, melakukan pengecekan pada modem hingga jaringan kabel, bahkan tanpa biaya jasa sepeserpun sampai jaringan internetku normal kembali.

Kini IndiHome yang sudah menjadi teman terbaikku untuk menemukan informasi di berbagai belahan Bumi, kembali lagi membantuku menemukan orang yang sangat spesial.

Ceritaku dengannya si Mata Empat, kurasa akan berjalan kembali. Aku tak tahu seperti apa perilakuku saat kami berjumpa nanti. Hanya saja kupastikan, aku akan mengatakan padanya bahwa ada seorang gadis bodoh yang begitu menyukainya saat SMA dan berhutang ungkapan perasaan.

Bisakah kami membuat kenangan baru yang lebih baik? Jika IndiHome bisa membantu kami bertemu di dunia maya, kurasa tak ada yang tak mungkin lagi.